This will pay you dollars just by visit websites..it is callled PTC

LinkGrand.com

Kamis, 27 Mei 2010

Kondisi-Kondisi Atmosferik


Faktor-faktor Manusiawi dalam Desain Lingkungan Kerja

A. Regulasi panas tubuh terhadap kerja

Keteraturan panas dalam tubuh manusia meliputi: temperature badan, pengendalian proses panas, transportasi panas oleh aliran darah, gerakan otot yang cepat, pertukaran panas.

1. Temperature panas

Temperature tubuh manusia selalu konstan. Hal tersebut merupakan prasyarat untuk fungsi normal dari fungsi vital yang paling penting, seperti pada bagian dalam otak, jantung dan di dalam perut yang berfluktuasi sekitar 37 derajat celcius atau disebut core temperature. Sebaliknya di dalam otot, tangan, kaki, di seluruh bagian kulit disebut shell temperature.

Grandjean (1986), mengatakan jika temperature sekeliling dingin maka aka nada perbedaan temperature yang menyolok pada bagian kulit dari dalam ke arah luar. Sebagai contoh jika suhu udara dingin maka suhu permukaan kulit menurun menjadi 35 derajat celcius, tetapi jika suhu masih hangat maka suhu masih berada sekitar 35-36 derajat celcius yang hanya berada sekitar beberapa millimeter di bawah kulit.

2. Pengendalian proses panas

Pusat panas terletak pada bagian otak yang mengatur aliran darah melalui pembuluh kulit seperti keluarnya keringat. Jika suhu dalam tubuh meningkat menjadi lebih panas, maka pusat pengendali panas akan mengirim impulse untuk menjaga agar temperature inti tetap konstan dengan mengatur sirkulasi panas dan panas kemudian akan hilang melalui keringat yang keluar. Mekanisme antara kedua hal tersebut akan mengatur keseimbangan panas dalam tubuh tergantung dari kondisi luar dan dalam tubuh.

3. Transportasi panas oleh aliran darah

Dalam hal ini darah memindahkan panas dari bagian dalam tubuh ke daerah permukaan kulit yang lebih dulu didinginkan oleh temperature di luar tubuh. Sebaliknya jika bagian luar tubuh telah panas maka panas akan dipindahkan ke bagian dalam tubuh yang lain. Kunci dari mekanisme ini adalah dari pengendalian sirkulasi darah di dalam kulit.

4. Gerakan otot

Peningkatan ini ditandai oleh meningkatnya metabolisme panas pada otot dan organ lain. Perwujudannya ditandai dengan gerakan otot yang cepat seperti ketika kita sedang berlari, berolah raga, atau beraktivitas dari pagi hingga sore tanpa henti.

5. Pertukaran panas

Tubuh manusia senantiasa merubah energy kimia menjadi energy mekanis dan panas. Tubuh menggunakan panas ini untuk menjaga suhu tetap pada temperature yang konstan.

Dari semua keteraturan panas dalam tubuh kita, hal tersebut mempengaruhi cara kita bekerja selanjutnya. Suhu panas dalam tubuh jika normal dan konstan akan membuat kita tetap bekerja secara maximal dan stabil. Tetapi jika suhu tubuh menurun atau meningkat drastis maka kinerja kita terganggu, seperti jika kita kepanasan atau kedinginan maka yang terjadi pada pekerjaan kita adalah menjadi terhambat. Kita akan berkali-kali minum atau kipas-kipas untuk menyejukkan suhu tubuh kita sendiri, dan jika kedinginan kita akan merasakan kaku pada beberapa bagian otot membuat kita tak secepat seharusnya dalam mengerjakan sesuatu.

B. Efek pengaruh suhu thd kerja

Kenyamanan suhu (Thermal Comfort) meliputi dasar fisiologis suatu kenyamanan, efek sampingan dari suatu ketidaknyamanan, daerah temperature secara fisiologis, rentang temperature yang nyaman, empat factor klimatik dan kenyaman.

1. Dasar fisiologis suatu kenyaman

Internal climate suatu ruangan selama masih dalam batas kenyaman maka tidak aka nada masalah, namun jika sudah di luar batas kenyamanan maka menjadi suatu gangguan bahkan menimbulkan efek psikologis ataupun salah satu nyeri fisiologis tergantung pada level pertukaran panasnya. Sebagai contoh manusia akan menggunakan pakaian sebagaimana dia dapat memodifikasi lingkungannya dengan menggunakan bantuan teknologi untuk mendapatkan kenyaman (merestorasi/membangun kembali suatu proses pertukaran panas yang benar) tersebut.

2. Efek samping dari suatu ketidaknyamanan

Ketidaknyamanan akan mengakibatkan perubahan fungsional pada organ yang bersesuaian pada tubuh manusia. Menurut Grandjean (1986), kondisi panas yang berlebih di sekeliling mengakibatkan rasa letih, kantuk, mengurangi kestabilan dan meningkatkan jumlah angka kesalahan kerja. Hal ini akanmenurunkan daya kerasi tubuh manusia untukmenghasilkan panas dengan jumlah yang lebih sedikit.

Sebaliknya, kondisi dingin yang berlbihan mengakibatkan rasa malas untuk beristirahat yang mana akan mengurangi kewaspadaan dan konsentrasi, terutama berhubungan dengan pekerjaan yang menuntut kesiapan mental.

3. Rentang temperature yang nyaman

Menurut Grandjean (1986), manusia akan merasakan kenyamanan hanya ketika system keteraturan vasomotor (rentang pertukaran panas yang menyatakan kondisi tubuh dalam kesetimbangan) tidak terlalu banyak terbebani, yaitu ketika fluktuasi sirkulasi darah kea rah kulit tidak lebih dari fluktuasi yang normal.

Rentang temperature yang membuat manusia nyaman sangat bervariasi tergantung dari jenis pakaian yang dipakainya dan dari aktivitas yang telah dilakukan.

4. Empat factor klimatik dan kenyamanan

Kesan manusia tentang kenyamanan menurut Grandjean dipengaruhi 4 faktor yang menentukan pertukaran panas, yaitu :

a. Temperature udara

b. Temperature permukaan dinding yang berdekatan

c. Kelembaban udara

d. Aliran udara

C. Efek pencemaran udara thd kerja

Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.

Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global.

Pencemaran udara selain membawa ketidaknyamanan, akan membawa pengaruh buruk bagi kesehatan tubuh. Terganggunya pernapasan dan konsentrasi kita terhadap aktivitas. Dalam melaksanakan ekerjaan, manusia membutuhkan suasana dan udara yang menyegarkan agar pikiran bisa lebih rileks dan siap menghadapi setumpuk kerjaan yang harus kita lakukan. Dengan terjadinya pencemaran udara akan mengurangi hari kerja aktif.

D. Efek tekanan udara dan O2 thd kerja

Jumlah oksigen yang diambil melalui udara pernapasan tergantung pada kebutuhan dan hal tersebut biasanya dipengaruhi oleh jenis pekerjaan, ukuran tubuh, serta jumlah maupun jenis bahan makanan yang dimakan.

Pekerja-pekerja berat termasuk atlit lebih banyak membutuhkan oksigen dibanding pekerja ringan. Demikian juga seseorang yang memiliki ukuran tubuh lebih besar dengan sendirinya membutuhkan oksigen lebih banyak.

Seseorang yang beraktivitas membutuhkan kadar o2 dan tekanan udara yang berada dalam batas normal dan mencukupi bagi tubuhnya untuk tetap bekerja secara maximal. Peranan udara di sekitar manusia dalam melakukan aktivitasnya sangat berpengaruh pada respon dindividu karena udara mempengaruhi kinerja otak dimana otak sebagai pusat syaraf, sehingga selanjutnya mempengaruhi kinerja manusia terhadap pekerjaannya.

Referensi :

· Nurmianto, eko. 2008.ergonomi, konsep dasar dan aplikasinya. Surabaya:Guna Widya

· http://free.vlsm.org/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi/0079%20 Bio%202-8f.htm

· http://id.wikipedia.org/wiki/Pencemaran_udara


Kondisi tanpa bobot dan gejala gravitasional lain

Kondisi tanpa bobot dan gejala gravitasional lain

1. Pengertian kondisi & gejala – gejala gravitasional

Menurut Stewart and Stewart, 1983 Kondisi Kerja adalah kondisi kerja sebagai serangkaian kondisi atau keadaan lingkungan kerja dari suatu perusahaan yang menjadi tempat bekerja dari para karyawan yang bekerja didalam lingkungan tersebut. Yang dimaksud disini adalah kondisi kerja yang baik yaitu nyaman dan mendukung pekerja untuk dapat menjalankan aktivitasnya dengan baik. Meliputi segala sesuatu yang ada di lingkungan karyawan yang dapat mempengaruhi kinerja, serta keselamatan dan keamanan kerja, temperatur, kelambapan, ventilasi, penerangan, kebersihan dan lain–lain.
Menurut Newstrom berarti bahwa kondisi kerja berhubungan dengan penjadwalan dari pekerjaan, lamanya bekerja dalam hari dan dalam waktu sehari atau malam selama orang-orang bekerja. Oleh sebab itu kondisi kerja yang terdiri dari faktor-faktor seperti kondisi fisik, kondisi psikologis, dan kondisi sementara dari lingkungan kerja, harus diperhatikan agar para pekerja dapat merasa nyaman dalam bekerja sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja.


Jenis Kondisi tanpa bobot kerja :


Kondisi Fisik dari lingkungan kerja

Kondisi fisik dari lingkungan kerja di sekitar karyawan sangat perlu diperhatikan oleh pihak badan usaha, sebab hal tersebut merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh untuk menjamin agar karuyawan dapat melaksanakan tugas tanpa mengalami gangguan. Memperhatikan kondisi fisik dari lingkungan kerja karyawan dalam hal ini berarti berusaha menciptakan kondisi lingkungan kerja yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan para karyawan sebagai pelaksanan kerja pada tempat kerja tersebut.
Kondisi fisik dari lingkungan kerja menurut Newstrom berarti bahwa faktor yang lebih nyata dari faktor-faktor yang lainnya dapat mempengaruhi perilaku para pekerja adalah kondisi fisik, dimana yang termasuk didalamnya adalah tingkat pencahayaan, suhu udara, tingkat kebisingan, jumlah dan macam-macam radiasi udara yang berasal dari zat kimia dan polusi-polusi, ciri-cii estetis seperti warna dinding dan lantai dan tingkat ada (atau tidaknya) seni didalam bekerja, musik, tumbuh-tumbuhan atau hal-hal yang menghiasi tempat kerja.

Menurut Handoko (1995), lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan yang terdapat di sekitar tempat kerja, yang meliputi temperatur, kelembaban udara, sirkulasi juadara, pencahayaan, kebisingan, getaran mekanis, bau-bauan, warna dan lain-lain yang dalam hal ini berpengaruh terhadap hasil kerja manusia tersebut.

2. Efek terhadap kerja

Efek psikologis yang paling sederhana dan jelas dari kerja adalah menurunnya motivasi kerja dan kinerja karyawan. Motivasi kerja sangat dibutuhkan oleh individu karyawan sebagai dorongan untuk menciptakan gairah kerja. Kinerja karyawan timbul sebagai respon efektif atau emosional terhadap tugas pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan. Beban kerja yang tinggi akan menyebabkan munculnya stres pada karyawan. Stres kerja disebabkan oleh konflik kerja, beban kerja, waktu kerja, karakteristik tugas, dukungan kelompok dan pengaruh kepemimpinan.

3. Pengertian akselerasi

Akselerasi adalah suatu proses percepatan (acceleration) pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik yang memiliki kemampuan luar biasa (unggul) dalam rangka mencapai target kurikulum Nasional dengan mempertahankan mutu pendidikan sehingga mencapai hasil yang optimal. Dengan kata lain peserta didik dapat menyesuaikan cara belajarnya lebih cepat dari siswa lainnya (siswa yang mengikuti program reguler).
Secara singkat akselerasi mengandung pengertian:Sebagai model pembelajaran yaitu lompat kelas, dimana peserta didik berbakat yang memiliki kemmampuan unggul diberi kesempatan untuk mengikuti pelajaran pada kelas yang lebih tinggi. Kurikulum atau akselerasi program, menunjuk pada peringkasan program sehingga dapat dijalankan dalam waktu yang lebih cepat. Memperoleh konten materi dengan irama yang lebih dipercepat sesuai dengan kemampuan potensial siswa.

Tujuan Penyelenggaraan Program Akselerasi (Percepatan). Tujuan Umum memenuhi kebutuhan peserta didik yangmemiliki karakteristik spesifik dari segi perkembangan kognitif dan afektif. Memenuhi Hak Azasi manusia peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan bagi dirinya sendiri.Memenuhi minat intelektual dan perspektif masa depan peserta didik.Memenuhi kebutuhan aktualisasi diri peserta didik.Menimbang peran serta peserta didik sebagai asset masyarakat dan kebutuhan masyarakat untuk pengisian peran.Menyiapkan peserta didik sebagai pemimpin masa depan.

Tujuan KhususMemberikan penghargaan untuk dapat menyelesaikan program pendidikan secara lebih cepat.Meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran peserta didik.Mencegah rasa bosan terhadap iklim kelas yang kurang mendukung berkembangnya potensi keunggulan peserta didik secara optimal. Memacu mutu siswa
untuk peningkatan kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosionalnya secara seimbang.

Belajar akselerasi adalah belajar yang dilakukan dengan waktu yang lebih pendek tanpa mengurangi materi yang seharusnya dipelajari. Jika pembelajaran akselerasi berhasil dalam pelaksanaannya dimana tujuan yang diharapkan juga tercapai maka diperoleh beberapa segi positif, yaitu: 1. peserta didik yang potensial dapat menyelesaikan pendidikannya lebih cepat dari waktu biasanya, 2. Efisien dalam waktu, dan 3. Efisien dalam biaya.

4. Efek akselerasi terhadap kerja

Percepatan waktu dalam pembelajaran akselerasi membawa konsekuensi yang tidak ringan baik itu dalam hal penyediaan fasilitas belajar muapun kemampuan kinaerja karyawan untuk melaksanakannya. Jika pembelajaran akselerasi pelaksanaannya sama dengan pembelajaran biasa hanya waktunya saja yang diperpendek maka mustahil tujuan pembelajaran dapat tercapai. Untuk itu perlu dilakukan pembelajaran yang mampu mengoptimalkan kemampuan para pekerja, terutama kemampuan kognitif.

5. Pengertian ilusi

Ilusi adalah sebuah kondisi mempersepsikan berbeda terhadap sebuah obyek, sebagai contoh mengapa ketika anda melihat sebuah permainan sulap sebenarnya anda sedang mengalami ilusi, pesulap melakukan tehnik membuat sebuah obyek dipersepsi berbeda oleh seseorang. Ada yang beranggapan bahwa ilusi terjadi karena ada rangsang sedangkan halusinasi terjadi tanpa ada rangsang, dengan pendapat ini tentu untuk orang awam pengertiannya menjadi sulit dicerna meskipun sebenarnya maksud atau pengertiannnya benar, untuk menyederhanakan arti maka halusinasi adalah merasa melihat obyek tanpa benar – benar ada obyek. Contoh : Seorang klien berusia 35 tahun bernama Tn S merasa mendengar bisikan – bisikan yang mengatakan “kamu jelek, kamu jahat, kamu gak bisa apa – apa”, ketika di evaluasi di lingkungan tidak ada saksi yang mendukung bahwa mereka mendengar suara.

Ilusi adalah suatu persepsi panca indera yang disebabkan adanya rangsangan panca indera yang ditafsirkan secara salah. Dengan kata lain, ilusi adalah interpretasi yang salah dari suatu rangsangan pada panca indera. Sebagai contoh, seorang penderita dengan perasaan yang bersalah, dapat meng-interpretasikan suara gemerisik daun- daun sebagai suara yang mendekatinya. Ilusi sering terjadi pada saat terjadinya ketakutan yang luar biasa pada penderita atau karena intoksikasi, baik yang disebabkan oleh racun, infeksi, maupun pemakaian narkotika dan zat adiktif.

Ilusi terjadi dalam bermacam-macam bentuk, yaitu ilusi visual (penglihatan), akustik (pendengaran), olfaktorik (pembauan), gustatorik (pengecapan), dan ilusi taktil (perabaan).

A. Jenis-jenis ilusi
• llusi fisiologis , seperti yang terjadi pada afterimages atau kesan gambar yang terjadi setelah melihat cahaya yang sangat terang atau elihat pola gambar tertentu dalam waktu lama. Ini diduga merupakan efek yang terjadi pada mata atu otak setelah mndapat rangsangan tertentu secara berlebihan.
• Illusi kognitif diasumsikan terjadi karena anggapan pikiran terhadap sesuatuN diluar.

B. ilusi kognitif dibagi menjadi:
• Illusi ambigu, yaitu gambar atau objek dapat diartikan secara berlainan.
• Illusi distorsi, yaitu terdapat distorsi ukuran, panjang, atau sifat kurva (lurus atau lengkung). Contoh: Illusi Muller-Lyer
• Illusi paradoks, disebabkan karena objek yang paradoksial atau tidak mungkin.
• Illusi Fiksional, didefinisikan sebagai persepsi objek yang sama sekali berbeda bagi seseorang tetapi bukan bagi orang lain, misalnya disebabkan karena schizophrenia atau halusinogen, lebih tepatnya disebut halusinasi.
• Illusi optis adalah illusi yang terjadi karena kesalahan penangkapan mata manusia. Contoh: illusi 1, illusi 2, illusi 3, illusi 4

Contoh Proses kerja persepsi adalah ilusi.
• ilusi adalah :
a. Bukan tipuan /trick
b. Bukan kesalahan persepsi/misperception
c. Ilusi terjadi karena data/info/input sensoris tidak diterjemahkan sebagaimana adanya, tetapi ditam- bahkan hasil pengolahan otak atas dasar penga-laman masa lalu (Kesalahan dalam mengartikan stimulus).

• Faktor Penyebab Ilusi :
a. Faktor alam atau fisik
contoh : kaca, gema
b. Faktor stimulus
contoh : ambigu
c. Faktor individu
contoh : kebiasaan, mental

6. Efek ilusi terhadap kerja
Illusi adalah kesalahan dalam memberikan arti terhadap stimulus yang diterima. Misalnya tonggak dikira sebagai orang yang sedang berdiri.
Faktor-faktor penyebab terjadinya illusi antara lain:
1) Faktor ke-alaman
Illusi terjadi karena faktor alam, misalnya illusi ekho (gema), illusi kaca.
2) Faktor stimulus
a. stimulus yang mempunyai arti lebih dari satu dapat menimbulkan illusi. Misalnya : gambar yang ambiguous.
b. stimulus yang tidak dianalisis lebih lanjut, yang memberikan impresi secara total.
Misalnya Illusi Muller-Lyer,
3) Faktor individu
disebabkan karena adanya kebiasaan dan adanya kesiapan psikologis (mental set).

Sabtu, 22 Mei 2010

Sistem Manusia Mesin

Sistem Manusia Mesin

Sistem Manusia-Mesin adalah kombinasi antara satu atau beberapa manusia dengan satu atau beberapa mesin, yang saling berinteraksi, untuk menghasilkan keluaran-keluaran berdasarkan masukan-masukan yang diperoleh. Pendekatan ergonomi akan ditekankan pada penelitian kemampuan keterbatasan manusia, baik secara fisik maupun mental psikologis dan interaksinya dalam sistem manusia-mesin yang integral. Maka, secara sistematis pendekatan ergonomi kemudian akan memanfaatkan informasi tersebut untuk tujuan rancang bangun, sehingga akan tercipta produk, sistem atau lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan manusia. Pada gilirannya rancangan yang ergonomis akan dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktivitas kerja, serta dapat menciptakan sistem serta lingkungan kerja yang cocok, aman, nyaman dan sehat.

Teknologi yang semakin canggih menghasilkan mesin yang lebih dapat dipercaya fungsinya sehingga membuat manusia semakin praktis saja dalam menggunakannya. Misalnya saja dari mesin tik kemudian muncul computer dengan memori berkapasitas besar, hal ini membuatnya lebih dapat diandalkan dalam membantu manusia mengerjakan pekerjaannya.

Dalam sistem manusia-mesin terdapat dua interface penting dimana ergonomilah yang memegang peranan penting di dalam hubungan tersebut. Interface tersebut antara lain:

1. Display yang dapat menghubungkan kondisi mesin pada manusia

2. Kontrol, yang mana manusia dapat menyesuaikan respon dengan feedback (timbal balik) yang di peroleh dari display tadi.

Konsep Dasar Sistem Manusia-Mesin

Untuk mendisain interface-interface tersebut, mula-mula kita harus memahami beberapa karakteristik penting dari panca indera manusia, yaitu penglihatan dan pendengaran. Kedua panca indera ini yang mempengaruhi pemahaman tentang display dan symbol-simbol (sinyal-sinyal) yang dapat di dengar. Karena manusia mempunyai ukuran-ukuran juga batasan dari penglihatan dan pendengaran, maka interface perlu di disain sedemikian rupa agar manusia dapat memakai sebuah mesin tertentu dengan cukup aman dan nyaman.

Masalah Peraga

Tugas dalam merancang sistem Mesin-Manusia ialah guna menentukan cara yang paling efektif untuk menyajikan keterangan kepada operator manusia dengan menggunakan peragaan penglihatan, peragaan pendengaran, dan peragaan perabaan (visual, auditory, tectual display).
Sistem Mesin-Manusia secara umum dapat digambarkan prosesnya sebagai berikut :

1. Tenaga kerja menerima masukan dalam bentuk perintah, instruksi, informasi, bahan mentah, dan sebagainya melalui indera penglihatan dan/atau indera pendengaran

2. Masukan diolah, terjadi proses berpikir, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan


3. Tenaga kerja melaksanakan perintahnya, melaksanakan tugasnya dengan mengoperasikan dan mengendalikan alat dan mesin dengan menggunakan alat-alat operasi/kendali seperti tombol, kenop, hendel, tongkat, dan alat kendali lain

4. Mesin melakukan apa yang harus ia lakukan

5. Lewat peraga penglihatan (visual display) dan atau peraga pendengaran (auditory display) dapat diketahui bagaimana mesin berfungsi. Hasil kerja mesin merupakan keluaran, bagaimana mesin bekerja merupakan masukan bagi operator yang harus memutuskan apakah mesin telah bekerja sesuai dengan yang diharapkan ataukah harus diambil tindakan perbaikan. Dalam hal yang terakhir operator harus melakukan tindakan korektif dengan mengoperasikan alat operasi atau kendali. Mesin bekerja setelah ada koreksi dan melalui peraga operator mengetahui tentang bekerjanya mesin dan seterusnya.


Analisis Pengukuran Mekanika Tubuh Manusia dengan Metode Biomekanika

Biomekanika adalah bidang ilmu aplikasi mekanika pada sistem biologi. Biomekanika merupakan kombinasi anatara disiplin ilmu mekanika terapan dan ilmu-ilmu biologi dan fisiologi. Dalam biomekanika, prinsip-prinsip mekanika dipakai dalam penyusunan konsep, analisis, desain dan pengembangan peralatan dan sistem dalam biologi dan kedokteran. Ilmu ini adalah sebuah penerapan dari hokum mekanik untuk mendeskripsikan gerakan manusia, juga sebuah ilmu yang mempelajari gaya yang bekerja dan dihasilkan pada tubuh manusia beserta efeknya pada lapisan, cairan ataupun material yang digunakan untuk keperluan diagnosis, perawatan dan penelitian.

Biomekanika juga merupakan suatu ilmu pengetahuan yang merupakan kombinasi dari ilmu fisika (khususnya mekanika) dan teknik, dengan berdasar pada biologi dan juga pengetahuan lingkungan kerja. Oleh Winter (1990), mendefinisikan bahwa biomekanika dari gerakan manusia adalah ilmu yang menyelidiki, menggambarkan dan menganalisis gerakan manusia. Biomekanika umum adalah bagian dari biomekanika yang berbicara mengenai hukum-hukum dasar yang mempengaruhi tubuh organik manusia baik dalam posisi diam maupun bergerak. Biostatik adalah bagian dari biomekanika umum yang hanya menganalisa bagian tubuh dalam keadaan diam maupun bergerak pada garis lurus dengan kecepatan seragam (uniform). Biodinamik adalah bagian dari biodinamika umum yang berkaitan dengan gerakan-gerakan tubuh tanpa mempertimbangkan gaya yang terjadi (kinematik) dan gaya yang disebabkan gaya yang bekerja dalam tubuh (kinetik). Occupational Biomechanics didefinisikan sebagai bagian dari mekanik terapan yang mempelajari interaksi fisik antara pekerja dengan mesin, material, dan peralatan dengan tujuan untuk meminimumkan keluhan pada sistem kerangka otot agar produktivitas kerja dapat meningkat.

Pendekatan Biomekanika memandang tubuh sebagai suatu sistem yang terdiri dari elemen-elemen yang saling berkaitan dan terhubung satu sama lain melalui sendi-sendi dan jaringan otot yang ada. Prinsip-prinsip fisika digunakan untuk menyatakan tegangan mekanik pada tubuh dan gaya otot yang diperlukan untuk mengimbangi tegangan tegangan tersebut. Dalam melakukan analisis biomekanik, tubuh manusia dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri dari link (penghubung) dan joint (sambungan). Tiap link mewakili segmen tubuh tertentu dan tiap joint menggambarkan sendi yang ada.

Ilmu ini juga merupakan ilmu yang menggunakan prinsip-prinsip kerja mesin untuk memahami kerja mekanis tubuh dan bahwa eksistensi manusia ditentukan oleh kemampuan mobilitasnya yang diakibatkan oleh pemakaian gaya-gaya otot untuk menghasilkan gerakan.

perbedaan mengenai analisis gerakan pada manusia bisa dilihat pada gambar berikut:

Dari skema di atas bisa dilihat bahwa Bidang ilmu biomekanik terdiri dari dua macam gerakan, yaitu kinematik, dan kinetik.

a. Kinematik

Mempelajari gerakan baik mengenai perpindahannya, kecepatan dan percepatan, tanpa memperhatikan penyebab gerakan.

b. Kinetik

Berhubungan dengan kerja gaya-gaya pada benda dan akibat (hasil) kerja gaya-gaya tersebut.

Baik gerakan kinematik maupun kinetik dibedakan menjadi dua macam gerakan yaitu:

a. Gerakan linear

adalah gerakan lurus ataupun melengkung sepanjang jalur dimana seluruh titik pada tubuh manusia bergerak pada jarak dan waktu yang sama.

b. Gerakan angular

adalah gerakan disekitar titik yang sama sehingga daerah yang berbeda pada segmen tubuh yang sama tidak bergerak pada jarak dan waktu yang sama. Gerakan ini bekerja pada jalur imaginer yang disebut sumbu rotasi.

Biomekanika merupakan salah satu dari empat bidang penelitian informasi hasil ergonomi. Yaitu penelitian tentang kekuatan fisik manusia yang mencakup kekuatan atau daya fisik manusia ketika bekerja dan mempelajari bagaimana cara kerja serta peralatan harus dirancang agar sesuai dengan kemampuan fisik manusia ketika melakukan aktivitas kerja tersebut.

Biomekanika diklasifikasikan menjadi 2, yaitu :

1. General Biomechanic

Adalah bagian dari Biomekanika yang berbicara mengenai hukum – hukum dan konsep – konsep dasar yang mempengaruhi tubuh organic manusia baik dalam posisi diam maupun bergerak.

Dibagi menjadi 2, yaitu:

2. Occupational Biomechanic.

Didefinisikan sebagai bagian dari biomekanik terapan yang mempelajari interaksi fisik antara pekerja dengan mesin, material dan peralatan dengan tujuan untuk meminimumkan keluhan pada sistem kerangka otot agar produktifitas kerja dapat meningkat. Setelah melihat klasifikasi diatas maka dalam praktikum kita ini dapat kita kategorikan dalam Biomekanik Occupational Biomechanic. Untuk leebih jelasnya disini akan kita bahas tentang anatomi tubuh yang menjadi dasar perhitungan dan penganalisaan biomekanik. Dalam biomekanik ini banyak melibatkan bagian bagian tubuh yang berkolaborasi untuk menghasilkan gerak yang akan dilakukan oleh organ tubuh yakni kolaborasi antara Tulang, Jaringan penghubung (Connective Tissue) dan otot.

Referensi:

Nurmianto, eko. 2008. ergonomi konsep dasar dan aplikasinya. Surabaya:guna widya

http://chanatha.wordpress.com/2010/05/20/sistem-mesin-manusia-yang-digunakan-pada-sistem-informasi/

Kamis, 04 Maret 2010

Antropometri

PERANAN ANTROPOMETRI DALAM BIDANG ERGONOMIKA

A. PENGERTIAN

Istilah antropometri berasal dari kata “anthro” = manusia dan “metri” = ukuran. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Antropometri secara luas digunakan untuk pertimbangan ergonomis dalam suatu perancangan (desain) produk maupun sistem kerja yang akan memerlukan interaksi manusia. Aspek-aspek ergonomi dalam suatu proses rancang bangun fasilitas marupakan faktor yang penting dalam menunjang peningkatan pelayanan jasa produksi.

Antropometri adalah pengukuran dimensi tubuh atau karakteristik fisik tubuh lainnya yang relevan dengan desain tentang sesuatu yang dipakai manusia (Sanders & McCormick -1987, Pheasant -1988, dan Pulat -1992 ).

B. TUJUAN

Tujuan pendekatan antropometri : adalah agar terjadi keserasian antara manusia dengan system kerja (man-machine system), sehingga menjadikan tenaga kerja dapat bekerja secara nyaman, baik dan efisien. Tenaga kerja akan bekerja secara terus menerus pada setiap hari kerja di tempat kerja tersebut. Karena itu perancangan tempat kerja dan peralatan pendukungnya menjadi penting agar sisi buruk yang ada pada setiap produk tidak muncul.

Antropometri merupakan bidang ilmu yang berhubungan dengan dimensi tubuh manusia. Dimensi-dimensi ini dibagi menjadi kelompok statistika dan ukuran persentil. Jika seratus orang berdiri berjajar dari yang terkecil sampai terbesar dalam suatu urutan, hal ini akan dapat diklasifikasikan dari 1 percentile sampai 100 percentile.

Data dimensi manusia ini sangat berguna dalam perancangan produk dengan tujuan mencari keserasian produk dengan manusia yang memakainya. Pemakaian data antropometri mengusahakan semua alat disesuaikan dengan kemampuan manusia, bukan manusia disesuaikan dengan alat.

Rancangan yang mempunyai kompatibilitas tinggi dengan manusia yang memakainya sangat penting untuk mengurangi timbulnya bahaya akibat terjadinya kesalahan kerja akibat adanya kesalahan disain (design-induced error).

Kenyamanan menggunakan alat bergantung pada kesesuaian ukuran alat dengan ukuran manusia. Jika tidak sesuai, maka dalam jangka waktu tertentu akan mengakibatkan stress tubuh antara lain dapat berupa lelah, nyeri, pusing.

Jika disadari bahwa perancangan suatu produk juga dilakukan oleh manusia, maka perancangan sistem manusia-mesin juga tidak lepas dari faktor-faktor manusia karena sebagian dari kesalahan-kesalahan kerja yang terjadi disebabkan oleh rancangan produk yang tidak mempunyai kompatibilitas dengan manusia yang menanganinya. Karena itu seorang perancang produk mempunyai peran besar dalam mengurangi risiko bahaya akibat kesalahan kerja.

Memang kesalahan adalah manusiawi, tetapi penelitian lebih jauh menunjukkan bahwa kesalahan manusia banyak disebabkan kesalahan rancangan produk. Ini menunjukkan bahwa kesalahan manusia berawal pada perancangannya yang ‘tidak manusiawi’ dan berakibat pada tahap pemakaiannya sebagaimana juga pada perawatannya.

C. PERHITUNGAN YANG DITERAPKAN PADA ERGONOMI

Antropometri Posisi Berdiri
Antropometri posisi berdiri untuk diterapkan pada ergonomi yang terpenting adalah :
1. Tinggi badan
2. Tinggi bahu
3. Tinggi pinggul
4. Tinggi siku
5. Depa
6. Panjang lengan

Antropometri Posisi Duduk
Antropometri posisi duduk terpenting yang harus diukur adalah :
1. Tinggi lutut
2.
Lipat lutut punggung
3. Tinggi duduk
4. Lipat lutut telapak kaki
5. Panjang lengan bawah dan lengan

Antropometri kepala
Beberapa bagian yang perlu diukur untuk kepala antara lain :
1. Jarak antara vertek dengan dagu (A)
2.
Jarak antara mata dengan dagu (B)
3. Jarak antara hidung dengan dagu (C)
4. Jarak antara mulut dengan dagu (D)
5. Jarak antara ujung hidung dengan lekukan
lubang hidung (E)
6. Jarak antara ujung hidung dengan kepala
belakang (F)
7. Jarak antarai dengan belakang kepala (G)
8. Jarak antara vertex dengan lekukan di
antara kedua alis (H)
9. Jarak antara vertex dengan daun telinga atas
(I)
10. Jarak antara vertex dengan lubang telinga
(J)
11. Jarak antara vertex dengan daun telinga
bawah (K)
12. Lingkar kepala membujur (L)
13. Lingkar kepala melintang (M)
14. Lebar kepala (N)
15. Jarak antara kedua mata (O)
16. Jarak antara kedua pipi (P)
17. Jarak antara kedua lubang hidung (Q)
18. Jarak antara kedua persendian rahang
bawah (R)
19. Jarak antara kedua daun telinga (S)
20. Jarak antara cuping hidung (T)

Antropometri tangan
Pada antropometri tangan beberapa bagian yang perlu diukur adalah :

1. Panjang tangan (A)

2. Panjang telapak tangan (B)
3. Lebar tangan sampai ibu jari (C)
4. Lebar tangan sampai matakarpal (D)
5. Ketebalan tangan sampai matakarpal (E)
6. Lingkar tangan sampai telunjuk (F)
7. Lingkar tangan sampai ibu jari (G)

Antropometri kaki
Pada antropometri kaki beberapa bagian yang perlu diukur adalah :
1. Panjang kaki (A)
2. Lebar kaki (B)
3. Jarak antara tumit dengan telapak kaki yang lebar (C)
4. Lebar tumit (D)
5. Lingkar telapak kaki (D)
6. Lingkar kaki membujur (E)

Agar dapat mendesain produk sesuai edengan ukuran manusia, maka dalam mendesain produk harus disesuaikan dengan ukuran terbesar (95 th percentile) dan ukuran terkecil tubuh (5 th percentile).

Untuk mendisain produk secara ergonomis yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari atau mendesain produk yang ada pada lingkungan haruslah disesuaikan dengan antropometri manusia yang ada di lingkungan itu sebab bila tidak sesuai maka akan menimbulkan berbagai dampak negatif yang akan terjadi baik dalam waktu jangka pendek maupun jangka panjang.